DI tengah dominasi budaya populer dunia, Pusaka Mulia Suku Karo, ‘Uis Gara’ (UG), saat ini bergulat dengan masalah yang rumit. Sedikitnya anak muda yang datang ke museum dan hilangnya pemahaman mereka tentang betapa berharganya kain tradisional ini, menjadi sinyal bahaya bagi perlindungan jati diri. Museum, yang idealnya berperan sebagai tempat pembelajaran, saat ini harus berupaya sekuat tenaga untuk menarik perhatian generasi milenial dan Gen Z, serta memperkenalkan lagi arti penting yang ada di setiap lembar UG.
UG, yang jika diartikan secara langsung berarti ‘kain berwarna merah’, sering kali disalahpahami seolah-olah hanya dihiasi dengan warna merah terang. Padahal, inti dari UG jauh lebih dari sekadar satu warna itu saja. Perlu dipahami bahwa UG menyimpan beragam motif dan desain dengan warna hitam yang mendalam dan kuat sebagai warna utama.
Warna hitam pada UG, seperti yang terlihat jelas pada jenis ‘Uis Kelam-kelam’ atau ‘Uis Nipes’, bukan hanya sekadar nilai keindahan saja. Warna ini mewakili kekuatan, kedewasaan rohani, dan dalamnya ilmu pengetahuan (kemalangen). Warna ini menjadi simbol kehormatan dan dipakai dalam ritual adat yang penting, memberikan nilai filosofis yang sama dengan warna merah melambangkan keberanian dan warna putih melambangkan kesucian. Pemahaman yang tidak lengkap tentang UG hanya fokus pada warna merah sama saja dengan menghapus setengah dari makna dan latar belakangnya.
Museum memiliki posisi penting sebagai pusat penghubung kembali dengan kebudayaan. Dalam area pameran yang tertata, kaum muda bisa mengamati langsung beragam macam UG, mengerti metode menenunnya yang detail, serta mendalami filosofi yang mendasari peletakan setiap untaian benang. Museum berubah fungsi dari sekadar ‘tempat menyimpan barang antik’, menjadi wadah aktif tempat warisan dianalisis dan ditafsirkan.
Guna meningkatkan rasa cinta terhadap UG, museum harus menjalankan langkah progresif yang sesuai dengan perkembangan zaman. Seperti misalnya memanfaatkan platform media sosial untuk menyampaikan narasi digital mengenai UG, meliputi kisah di balik pembuat tenun, kegunaan kain, juga arti warna hitam yang mendalam dan memberi dukungan kepada mahasiswa serta komunitas seni daerah untuk berkarya menggunakan motif UG, menjadikan warisan budaya ini tetap aktual dalam bentuk kreasi modern.
Dengan adanya tindakan ini, museum bisa kembali menjadi daya tarik budaya. Partisipasi generasi muda akan memastikan, bahwa UG, dengan semua kerumitan dan kekayaan warnanya, termasuk kemuliaan warna hitamnya, bukan sekadar menjadi benda peninggalan zaman dulu. Tetapi warisan yang terus dilestarikan, dimengerti, serta dibanggakan oleh para penerusnya. (Febe Elnosa Kasih – mahasiswi Jurusan Sastra Batak Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara)

